Tuesday, December 20, 2011

Resensi buku baru :: Employee Revolution ::


 

Judul Buku: Employee Revolution
Penulis: Jumadi Subur
Penerbit: Raih Asa Sukses
Tahun: 2011
Tebal: 185 halaman

Bagi sebagian besar pekerja, karyawan, pegawai atau apalah sebutannya, mempersepsikan bahwa bekerja adalah rutinitas menjalankan tugas untuk mendapatkan penghasilan yang bisa mencukupi kebutuhan hidup. Lebih mendalam dikit, ada yang menyebutnya untuk mencari nafkah. Benarkah sebagian besar hidup kita ini, kurang lebih 8 jam, bisa lebih jika lembur, yang berarti sepertiga lebih dari hidup kita hanya kita maknai seperti itu?
Buku baru yang bertajuk ”Employee Revolution ini membeberkan bagaimana kita sebagai karyawan, bisa memaknai pekerjaan dengan lebih mendalam dan penuh arti. Jika sudah begitu kita akan merasa ringan mengerjakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab kita, bahkan bisa melakukan lebih dari itu.
Tak hanya itu, di dalam buku ini juga diulas tentang bagaimana bekerja dengan penuh motivasi, cara jitu untuk menjadi karyawan terbaik yang penuh prestasi dengan mengoptimalkan potensi diri, cara membangun hubungan yang harmonis dan masih banyak lagi. Tentu saja ini tak hanya bermanfaat bagi karyawan, tapi bagi siapa saja bisa mengambil banyak pelajaran dari buku ini.

So, let the revolution begin!

.:: **** ::.

Sunday, December 18, 2011

Penyesalan


Sejauh kaki melangkah, sepanjang jalan hidup yang telah kita lewati, Tuhan menciptakan satu emosi yang pasti pernah kita alami dan rasakan:: penyesalan. Satu kata yang seringkali diasumsikan dengan sesuatu yang negatif. Satu ungkapan yang mengarahkan pikiran dan ingatan kita terhadap suatu emosi yang tidak menyenangkan. Satu hal yang sangat terkait dengan pengalaman masa lalu yang tidak kita inginkan terjadi, namun pada kenyataannya terjadi. Entah disengaja ataupun tidak.
Itu jika kita melihat dari sisi negatif. Tuhan menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Tidak mungkin Tuhan menciptakan sebuah emosi yang kita sebut penyesalan itu hanya memiliki sisi negatif, tidak bermanfaat, bahkan hanya menimbulkan perasaan yang tidak enak bagi kita.
Tak ada gunanya jika kita larut dan bersedih karena sesuatu yang kita sesali dan terus menyesalinya. Itu membuat kita semakin terpuruk dan tanpa sadar kita bisa terjebak dalam penyesalan-penyesalan selanjutnya.
Bagaimana melihat penyesalan sebagai sesuatu yang positif? Salah satu caranya dengan berpikir bahwa jika kita bisa menyesal setelah melakukan suatu kesalahan berarti kita masih punya nurani. Bagusnya kita masih bisa menyesal, namun sekali lagi jangan sampai larut dalam penyesalan. Itu yang disebut “menyesal tiada guna”. Akan tetapi jika kita menyesal, sadar dan segera bangkit, kita bisa mengambil pelajaran dari sesuatu yang kita sesali itu. Mengapa bisa terjadi? Bagaimana terjadinya? Dan yang lebih penting bagaimana supaya kita bisa menghindarinya supaya tidak terulang, sehingga tidak terjadi penyesalan lagi.
Jangan takut berbuat sesuatu karena takut salah, karena kita bisa belajar banyak dari kesalahan itu. Jika takut salah, kapan kita akan berbuat sesuatu?

Monday, November 28, 2011

Keterbukaan


Terlahir dan terbiasa dengan bahasa lugas yang gamblang membuatku tertekan ketika tidak mengetahui sesuatu yang mustinya aku tahu. Atau setidaknya menurutku aku harusnya tahu. Sebaliknya, menahan sesuatu yang mustinya aku sampaikan kepada siapa pun itu, tetapi tidak dapat aku sampaikan seperti menciptakan bom waktu. Takutnya suatu saat akan meledak bertubi-tubi tanpa batas.
Aku tahu aku perlu belajar banyak di sana. Lagi-lagi menurutku, keterbukaan bukanlah dosa, karena jika semua jelas maka tak akan ada salah paham, tak ada prasangka bahkan fitnah. Karena semua telah jelas. Terbuka belum tentu marah, jika yang ditakutkan adalah amarah. Memang nabi mengajarkan lebih baik diam ketika marah, tetapi keterbukaan sangat berbeda dengan kemarahan. Di dalam keterbukaan tak ada unsur kemarahan, tetapi kemarahan sangat memungkinkan disampaikan melalui keterbukaan. Yang terakhir itu yang disarankan untuk diam.
Aku tahu aku masih perlu belajar banyak tentang segala hal. Terima kasih buat teman-teman yang tak henti-hentinya memberiku pelajaran dan mengajakku terus belajar ^_^

Thursday, November 24, 2011

Jika ingin berubah


Kita ini makhluk hidup yang Allah ciptakan untuk saling bersosialisasi, karena pada dasarnya manusia saling membutuhkan satu sama lain. Sosialisasi juga yang menyebabkan munculnya norma-norma, nilai-nilai yang harus kita anut. Norma dan nilai tak tertulis yang kita anut tidak memiliki pengadilan khusus untuk menghukum orang-orang yang melanggarnya dan tidak ada petugas khusus yang mengawasi siapa saja yang melanggar norma dan nilai. Maka semua orang berhak menilai apa yang orang lain lakukan, semua orang berhak menjadi pengawas bagi siapapun. Dan hukuman bagi pelanggar adalah hukuman sosial, dikucilkan, dibenci banyak orang, dimusuhi dan sebagainya.
Di atas itu semua, betatapun banyak orang dan seringnya kita dinilai orang lain, kita sebagai pribadi yang utuh berhak menentukan sendiri apa yang kita lakukan. Orang boleh saja menilai, tapi jika kita punya keyakinan bahwa apa yang kita lakukan adalah benar dan yang terbaik, maka tak seharusnya kita mengikuti penilaian orang. Karena tidak semua orang menilai dengan benar.
Apa yang bisa kita lakukan dengan itu semua? Orang boleh menilai, boleh memberi kritik dan saran, maka kita terima itu sebagai masukan bagi diri kita. Pandai-pandai kita memilah mana yang baik dan benar, mana yang buruk dan tidak perlu kita anut. Kita berhak sepenuhnya atas diri kita dan kita bertanggungjawab sepenuhnya atas apa yang kita lakukan. Jika kita ingin berubah, maka harus dipastikan bahwa memang kita benar-benar ingin berubah, bukan karena orang lain, bukan karena alasan di luar diri kita, karena kita yang punya hak dan kita juga yang harus bertanggung jawab. Oleh karena itu, pastikan perubahan itu ke arah yang lebih baik ^_^